Membuat Router Sederhana Menggunakan Windows

Bagian paling sulit & paling fatal dalam jaringan komputer sekelas Internet adalah mengabstraksikan (membayangkan) cara kerja jaringan tersebut. Bagaimana mungkin jutaan komputer di seluruh dunia saling berkomunikasi tanpa ada kesalahan dalam pengiriman data, tanpa ada kesalahan memilih rute dll.

 

Pengalaman saya selama ini menunjukan bahwa kemampuan matematika yang baik akan sangat membantu dalam membayangkan (mengabstraksikan) kerja sebuah jaringan Internet. Konsep matematika seperti domain, set, subset menjadi sangat membantu dalam mengabstraksikan / membayangkan kerja routing & kerja Internet. Kemampuan matematika yang lemah, tampaknya menjadi kendala banyak orang Indonesia dalam mengabstraksikan kerja Internet.

 

Tulisan ini mencoba membahas pembuatan sebuah router sederhana menggunakan sistem operasi Windows 98. Terus terang, untuk aplikasi jaringan yang serius sebaiknya anda menggunakan Linux sebagai basis pembangunan sebuah router maupun komponen jaringan lainnya.

 

Ada Lima (5) tahapan dalam membuat sebuah router di mesin Windows 98, yaitu:

 

1. Rancangan Topologi Jaringan.

2. Konfigurasi kartu jaringan (LAN)

3. Konfigurasi sistem operasi

4. Belajar menggunakan perintah route.exe

5. Membuat batch file autostarting.


 

Rancangan Topologi Jaringan

 

Sebelum kita melakukan konfigurasi ada baiknya kita gambarkan terlebih dulu bentuk / topologi jaringan yang akan di gunakan. Dengan cara demikian akan sangat memudahkan dalam merancang setup routing yang perlu dilakukan.

 

 

Topologi jaringan yang akan digunakan terlihat dalam gambar di atas, merupakan topologi yang agak kompleks, terdiri dari dua buah LAN dengan keluarga IP:

 

192.168.0.x

192.168.120.x

 

Dalam topologi tersebut terdapat dua (2) buah router, yaitu:

 

  • Router 1 – menghubungkan Internet dengan LAN 192.168.120.x dengan alamat IP pada card ethernet yang digunakan 192.168.120.1.
  • Router 2 – menghubungkan LAN 192.168.0.x dan LAN 192.168.120.x, dengan alamat IP 192.168.0.1 dan 192.168.120.114.

 

Dalam tulisan ini, fokus akan diberikan pada setup Router 2 dengan dua (2) interface ethernet card dengan sistem operasi Windows 98.

 

Perlu di catat bahwa untuk keperluan normal di WARNET atau perkantoran kita cukup menggunakan konfigurasi LAN 192.168.120.x di atas. Konsep ini sengaja di kemukakan supaya membuka wawasan bahwa konfigurasi LAN dapat dibuat kompleks dengan menambahkan router ke LAN yang lain sehingga membentuk RT/RW-net.


 

Konfigurasi kartu jaringan (LAN)

 

 

Langkah selanjutnya adalah mengkonfigurasi kartu jaringan LAN. Ada dua (2) langkah yang perlu dilakukan, yaitu:

 

· Memastikan bahwa LAN card yang digunakan dikenali oleh sistem operasi & berjalan dengan baik.

· Mengkonfigurasi protokol yang di tempelkan di LAN card & menset parameternya.

 

 

Untuk memastikan bahwa LAN Card telah dikenali & berjalan dengan baik, dapat di periksa melalui

 

Start à Settings à Control Panel à System à Device Manager à Network Adapters.

 

 

Jika LAN card yang digunakan dikenali maka akan tampak pada layar, pada contoh yang saya gunakan terlihat ada tiga (3) network adapter, yaitu:

 

· Serial dial-up.

· D-Link

· Samsung

 

 


 

 

 

Jika kita klik properties dari masing-masing card akan tampak kondisi masing-masing card tersebut.

 

Pastikan dalam device status bahwa “This device is working properly”. Jika ternyata tidak berjalan dengan baik, maka pada driver kita dalam memasukan ulang driver LAN card tersebut.

 

Jika ternyata card LAN yang anda gunakan tidak berhasil di deteksi, anda harus mencari LAN card driver yang biasa di bawa dalam disket LAN card tsb. Dan menginstall-nya melalui fasilitas

 

Add New Hardware

 

Di control panel.

 

Dalam tulisan ini setup akan dilakukan pada card D-Link DFE 538TX dan SAMSUNG 11Mbps WLAN PCI Card.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Setelah yakin bahwa LAN card yang digunakan di kenali dengan baik oleh sistem operasi, selanjutnya kita akan mengkonfigurasi jaringan. Hal ini dilakukan melalui perintah,

 

Start à Settings à Control Panel à Network à Configuration.

 

Biasanya pada konfigurasi jaringan akan tampak LAN card yang tersambung ke komputer dan TCP/IP telah di tempelkan ke card tsb. Selanjutnya adalah menset beberapa parameter TCP/IP agar sesuai dengan topologi jaringan yang telah kita rancang sebelumnya.

 

Pada tulisan ini, D-Link DFE538TX tersambung ke jaringan 192.168.0.x dan SAMSUNG 11Mbps WLAN tersambung ke jaringan 192.168.120.x.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Untuk menset IP address, netmask masing-masing LAN card kita perlu mengklik property TCP/IP dari masing-masing LAN card.

 

Pada property TCP/IP dari LAN card ada IP address, di situ kita bisa memilih Specify an IP address, dan menentukan IP Address dan subnet mask-nya.

 

Untuk card D-Link yang tersambung ke jaringan 192.168.0.x di set IP address 192.168.0.1 dengan subnet mask 255.255.255.0.

 

Untuk card SAMSUNG yang tersambung ke jaringan 192.168.120.x di set IP address 192.168.120.114 dengan subnet mask 255.255.255.0.

 

Karena card SAMSUNG yang akan menghubungkan router ini ke dunia luar, maka pada bagian gateway di set ke Router 1 dengan IP 192.168.120.1.

 

Bagian yang akan membuat pusing kepala para pemula adalah menentukan IP address, subnet mask, gateway dll. Pada tahapan ini akan sangat memerlukan kemampuan matematika untuk mengabstraksi berbagai nomor tersebut.


Untuk ke amanan jaringan, sebaiknya dimatikan semua binding ke “Client for Microsoft Networks”, “File and printer sharing for Microsoft Networks”, dan “Microsoft Family Logon”

 


 

Konfigurasi sistem operasi

 

Setelah semua LAN card di konfigurasi dengan baik, langkah selanjutnya adalah lihat konfigurasi jaringan / router di sistem operasi windows. Ada dua (2) hal yang akan dilakukan pada tahapan ini, yaitu,

 

  1. Cek konfigurasi IP di sistem operasi Windows 98.
  2. Buka kemampuan routing sistem operasi Windows 98.

 

Untuk men-cek konfigurasi IP di sistem operasi Windows, dapat dilakukan melalui MS-DOS dan menggunakan perintah:

 

C:\> winipcfg

 

 

Akan tampak pada layar windows konfigurasi IP & kita dapat melihat bahwa card D-Link dengan hardware address 00:50:ba:4f:4e:ea mempunyai alamat IP 192.168.0.1 dan subnet mask 255.255.255.0.

 

 

 

 

 

 

 

Dengan memindahkan adapter yang digunakan ke SAMSUNG, akan terlihat hardware address SAMSUNG adalah 00:00:f0:64:96:ae, dengan alamat IP 192.168.120.114 dan netmask 255.255.255.0. Ada tambahan parameter yang tidak ada pada card D-Link yaitu default gateway yang di set ke 192.168.120.1.

 

 

 

 

 

Cara lain untuk men-cek konfigurasi IP adalah menggunakan perintah

 

C:\> ipconfig

 

Tampak pada layar ada tiga (3) adapter jaringan yang terdeteksi adapter

 

Ethernet 0 – dial-up adapter

Ethernet 1 – D-Link card

Ethernet 2 – SAMSUNG card.

 

Pastikan bahwa semua parameter seperti alamat IP, netmask, gateway harus sesuai dengan rancangan topologi LAN yang telah di rencanakan terlebih dulu.

 

 

 

Selanjutnya adalah mengaktifkan kemampuan routing dalam sistem operasi Windows 98. Hal ini dilakukan dengan cara mengedit registry Windows 98 menggunakan,

 

C:\> regedit

 

Anda perlu menambahkan pada

 

HKEY_LOCAL_MACHINE\System\CurrentControlSet\Services\VxD\MSTCP

 

Agar ada parameter

 

EnableRouting “1”

 

Caranya klik kanan MSTCP pilih New à String Value. Kemungkinan besar akan terlihat sebuah parameter dengan nama New Value #1. Rename New Value #1 menjadi EnableRouting dan masukan nilai-nya menjadi “1”.

 

 

 


 

Belajar menggunakan perintah route.exe

 

Sebetulnya sampai tahapan ini setelah semua setting di lakukan maka PC Windows 98 yang kita gunakan dapat digunakan sebagai router.

 

Kadang kala, kita membutuhkan beberapa perintah tambahan untuk menambahkan, mengurangi tabel routing. Terutama kalau ada user nakal di jaringan yang suka masuk ke situs yang tidak baik & perlu di blokir, dapat dilakukan dengan cara menghilangkan tabel routing ke situs tersebut.

 

Perintah yang akan sangat membantu untuk menset tabel routing adalah perintah route.exe, yang bisa dijalankan di MS-DOS. Ada tiga (3) perintah yang akan sering digunakan pada route.exe, yaitu

 

C:/> route print

C:/> route add

C:/> route delete

 

Perintah “route print” digunakan untuk melihat tabel routing yang ada di Windows 98, tampak pada gambar adalah contoh tampilan hasil melakukan route print. Memang tabel routing dapat dibuat sangat kompleks.

 




 

Perintah

 

C:/> route add 202.123.22.1 192.168.120.1

 

Akan menambahkan route paket untuk menuju alamat 202.123.22.1 agar di relaykan melalui mesin 192.168.120.1.

 

Perintah

 

C:> route delete 202.123.22.1

 

Akan menghilangkan routing ke arah mesin 202.123.22.1 dari tabel routing Windows 98.

 

 

 

 

 


 

Membuat batch file autostarting

 

Tentunya jika anda menambahkan tabel routing secara manual ada baiknya membuatnya dalam bentuk batch file di DOS yang dapat di edit menggunakan editor teks dan diberi ekstensi *.bat di akhir file-nya.

 

Seninya adalah bagaimana supaya file teks yang kita edit akan dijalankan oleh Windows pada saat booting pertama kali. Hal ini dilakukan dengan memberikan kode pif pada file tersebut.

 

Caranya adalah sebagai berikut,

route_pif.gif (6740 bytes)

  • Buatlah file yang akan anda jalankan berisi perintah route
  • Simpan file tersebut di harddisk misalnya di c:\route\doroute.bat
  • Cari file tersebut menggunakan Windows Explorer atau My Computer
  • Setelah di temukan klik kanan pada file tersebut untuk mengedit property.
  • Para parameter Run pilih Minimized, beri tanda klik pada Close on exit, tekan tombol OK.
  • Sebuah file dengan mana doroute.bat.pif akan dibuat.
  • Masukan (move) doroute.bat.pif ke folder startup agar setiap kali komputer di booting akan menjalankan doroute.bat.

 

 

 

 

 

 

Diterbitkan di: on Februari 28, 2007 at 12:53 am Tinggalkan sebuah Komentar

Installasi Mikrotik Router

1. Booting melalui CD-ROM
2. Setelah proses booting akan muncul menu pilihan software yang
mau di install, pilih sesuai kebutuhan yang akan direncanakan.
Modul mikrotik router Os                                             2
3. Ketik “ i “ setelah selesai memilih software, lalu akan menu
pilihan seperti ini :
-  Do you want to keep old configuration ? [ y/n] ketik Y
-  Continue ? [ y/n] ketik Y
Setelah itu proses installasi system dimulai, disini kita tidak
perlu membuat partisi hardisk karena secara otomatis dia akan
membuat partisi sendiri.
Proses Installasi
Modul mikrotik router Os                                              3
4. Setelah proses installasi selesai maka kita akan di minta untuk
merestart system, tekan enter untuk merestart system.
5. Setelah computer booting kembali ke system mikrotik, akan ada
pilihan untuk melakukan check system disk, tekan “ y “ .
Modul mikrotik router Os                                             4
6. Setelah itu akan muncul menu login
Mikrotik login = admin
Password = ( kosong , enter saja )
7. Untuk software license tekan “ y “ . Lalu enter beberapa kali
sampai muncul prompt untuk command line.
Prompt command line :
Modul mikrotik router Os                                        5
Modul 2
Basic Command
Summary on executing the commands and navigating the menus
Command                     Action
command [Enter]             Executes the command
[?]                         Shows the list of all available commands
command [?]                 Displays help on the command and the list of arguments
command argument [?]        Displays help on the command’s argument
[Tab]                       Completes the command/word. If the input is ambiguous,
a second [Tab] gives possible options
/                           Moves up to the base level
/command                    Executes the base level command
..                          Moves up one level
List of commands
Commands
certificate           import      log             ppp       redo     Special- login
driver                interface password queue routing system
ip                    ping        quit            setup     tool     file
isdn-channels         user        export          port      radius   snmp
undo
Modul mikrotik router Os                                                          6
Modul 3
Setting IP Address, Gateway & Name server
1. IP Address
Bentuk perintah konfigurasi
ip address add address={ ip address / netmask }
interface={ nama interface, ether1 atau ether2 bila ada 2 network
card }
Contoh konfigurasi :
Perintah ip address print adalah untuk melihat hasil dari konfigurasi.
2. Gateway
Bentuk perintah konfigurasi :
ip route add gateway={ ip gateway }
Contoh konfigurasi :
Modul mikrotik router Os                                               7
Perintah ip route print adalah untuk melihat routing table.
3. Name Server
Bentuk perintah konfigurasi :
ip dns set primary-dns={ dns utama }
seconday-dns={ dns ke dua }
Contoh konfigurasi :
Perintah ip dns print adalah untuk melihat hasil dari konfigurasi dns.
Modul mikrotik router Os                                               8
MODUL 4
Setting Routing
Router adalah sebuah device yang berfungsi untuk meneruskan
paket-paket dari sebuah network ke network yang lainnya baik LAN ke
LAN atau ke WAN sehingga host-host yang ada pada sebuah network
bisa berkomunikasi dengan host-host yang ada pada network yang lain.
Tujuan dari routing adalah agar paket IP kita dikirim sampai
pada target, begitu juga paket IP yang ditujukan untuk kita sampai
dengan baik. Target atau destination ini bisa berada dalam 1 jaringan
atau pun berbeda jaringan baik secara topologis maupun geografis.
a. Routing static
Bentuk Perintah konfigurasi :
ip route add dst-address={ ip network atau ip host yang dituju }
gateway={ ip gateway untuk melewati paket }
Contoh konfigurasi :
Artinya tujuan network 192.168.0.0/24 lewat gateway 172.99.77.2
Artinya tujuan host 202.10.56.2 lewat gateway 203.33.45.6
Modul mikrotik router Os                                            9
b. Routing untuk 2 isp
Routing untuk 2 isp atau lebih ini bisa kita analogikan ketika kita
dihadapkan pada masalah memakai 2 atau lebih koneksi, salah satu
permasalahannya        juga adalah   apabila    isp pertama memberikan
banwidth yang berbeda dengan isp yang kedua, hal ini bisa kita
lakukan dengan mikrotik yaitu dengan membagi atau balance paket
data ( Static Equal Cost Multi-Path Routing ) .
Contoh perintah konfigurasi :
ip route add gateway=192.168.1.1,192.168.2.1,192.168.2.1
Note :
Perintah diatas mendefinisikan bahwa besar bandwidth dari gateway
192.168.2.1 lebih besar 2 kali dari bandwidth yang didapat dari
gateway 192.168.1.1 , jadi bisa diartikan untuk routing lebih dari 1 isp
ini harus diketahui besar bandwith mana yang lebih besar yang
diberikan setelah itu kita bisa memasukan konfigurasi seperti diatas.
Modul mikrotik router Os                                              10
Modul 5
Network Address Translation & Transparent Proxy Server with
Web Proxy
1. Network Address Translation
Misi awal Internet adalah sebagai jaringan komunikasi non-
profit. Pada awalnya, Internet didesain tanpa memperhatikan dunia
bisnis. Kemudian hal ini menjadi masalah sekarang dan di masa
depan. Dengan semakin banyaknya penghuni Internet, baik pencari
informasi    maupun      penyedia  informasi, maka  kebutuhan    akan
pengalamatan di Internet makin membengkak. Kebutuhan besar akan
IP address biasanya terjadi di jaringan komputer perusahaan dan LAN-
LAN di lembaga pendidikan.
IP address sebagai sarana pengalamatan di Internet semakin
menjadi barang mewah dan ekslusif. Tidak sembarang orang sekarang
ini bisa mendapatkan IP address public dengan mudah. Oleh karena
itulah dibutuhkan suatu mekanisme yang dapat           menghemat IP
address. Logika sederhana untuk penghematan IP address ialah
dengan meng-share suatu nomor IP address public ke komputer client
lainnya. Atau dengan kata lain beberapa komputer bisa mengakses
Internet walau kita hanya memiliki satu IP address public. Salah satu
Mekanisme itu disediakan oleh Network Address Translation (NAT)
Bentuk perintah konfigurasi :
ip firewall nat add chain=srcnat
action=masquerade
out-interface= { ether yang langsung terhubung ke internet langsung
atau public }
Modul mikrotik router Os                                            11
Contoh konfigurasi :
Perintah ip firewall nat print adalah untuk melihat table nat.
2. Transparent Proxy Server
Proxy server merupakan program yang dapat mempercepat akses ke
suatu web yang sudah diakses oleh komputer lain, karena sudah di
simpan didalam caching server.
Transparent proxy menguntungkan dalam management client,
karena system administrator tidak perlu lagi melakukan setup proxy
di setiap browser komputer client karena redirection dilakukan
otomatis di sisi server.
Bentuk perintah konfigurasi :
a. Setting web proxy :
-  ip proxy set enable=yes
port={ port yang mau digunakan }
maximal-client-connections=1000
maximal-server-connections=1000
-  ip proxy direct add src-address={ network yang akan di
NAT}
action=allow
-  ip web-proxy set parent-proxy={proxy parent/optional}
hostname={ nama host untuk proxy/optional}
port={port yang mau digunakan}
Modul mikrotik router Os                                            12
src-address={ address yang akan digunakan untuk koneksi
ke parent proxy/default 0.0.0.0}
transparent-proxy=yes
max-object-size={ ukuran maximal file yang akan disimpan
sebagai cache/default 4096 in Kilobytes}
max-cache-size= { ukuran maximal hardisk yang akan
dipakai sebagai penyimpan file cache/ unlimited | none | 12
in megabytes}
cache-administrator={ email administrator yang akan
digunakan apabila proxy eror, status akan dikirim ke email
tersebut}
enable==yes
Contoh konfigurasi :
Note :
ip web-proxy print { untuk melihat hasil konfigurasi web-proxy}
ip web-proxy monitor { untuk monitoring kerja web-proxy}
Modul mikrotik router Os                                               13
b. Setting firewall untuk Transparant Proxy
Bentuk perintah konfigurasi :
ip firewall nat add chain=dstnat
protocol=tcp
dst-port=80
action=redirect
to-ports={ port proxy }
Contoh konfigurasi :
Modul mikrotik router Os                    14
Modul 6
DHCP Server
DHCP merupakan singkatan dari Dynamic Host Configuration Protocol,
yaitu suatu program yang memungkinkan pengaturan IP Address di
dalam sebuah jaringan dilakukan terpusat di server, sehingga PC Client
tidak perlu melakukan konfigurasi IP Addres. DHCP memudahkan
administrator untuk melakukan pengalamatan ip address untuk client.
Bentuk perintah konfigurasi :
ip dhcp-server setup
dhcp server interface = { interface yang digunakan }
dhcp server space = { network yang akan di dhcp }
gateway for dhcp network = { ip gateway }
address to give out = { range ip address }
dns servers = { name server }
lease time = { waktu sewa yang diberikan }
Contoh konfigurasi :
Modul mikrotik router Os                                            15
MODUL 7
Bandwidth Management
QoS memegang peranan sangat penting dalam hal memberikan
pelayanan yang baik pada client. Untuk itu kita           memerlukan
bandwidth management untuk mengatur tiap data yang lewat, sehingga
pembagian bandwidth menjadi adil.
Dalam hal ini Mikrotik RouterOs juga menyertakan packet
software untuk memanagement bandwidth.
Contoh Implementasinya seperti di bawah ini :
A. Cara 1
Bentuk perintah konfigurasi:
queue simple add name={ nama }
target-addresses={ ip address yang dituju }
interface={ interface yang digunakan untuk melewati data }
max-limit={ out/in }
Contoh Konfigurasi :
Modul mikrotik router Os                                          16
B. cara 2
1. Browse ip router lewat browser kesayangan anda.
2. Masuk ke Menu Simple Queues
Lalu Isi seperti yang direncanakan :
Modul mikrotik router Os                           17
Keterangan :
a. Name      = Nama untuk class
b. Out-limit = Bandwidth yang keluar atau uplink
c. In-limit  = Bandwidth yang masuk atau downlink
d. Target-ip = IP address yang dituju
e. Interface = Ethernet yang di gunakan untuk keluar data
menuju target ip
f. Time      = Waktu yang diberikan untuk pemakaian bandwidth
g. Days      = Hari yang diberikan untuk pemakaian bandwidth

Diterbitkan di: on Februari 26, 2007 at 1:38 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Diterbitkan di: on Februari 23, 2007 at 5:18 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Install openSUSE 10.2

Linux installation has never been this simple. Even Linux novices can install openSUSE 10.2 in a few easy steps:

1. Language Selection
After you insert the first CD-ROM or DVD of openSUSE 10.2 into your machine, the graphical installation tool YaST will launch. Select your preferred language from the list that appears.

YaST language selection

Click for large view

2. Installation Mode
After you accept the end-user license agreement, YaST checks your hard disk. If you already have installed an older version of openSUSE, YaST asks you whether you want to update your system or make a new installation. If you have an older version of openSUSE installed, choosing “Update” will preserve your existing files. Choosing “New Installation” will erase your existing work.

3. Graphical Desktop
After setting or accepting the suggested time zone, you need to choose your preferred desktop environment, KDE or GNOME. Both have elegant modern GUI interfaces and use state-of-the-art default applications for general-productivity tasks. If you want to try out both interfaces, you can. For now, choose one and later, in the installed system, you can install the other one. Then, you can easily switch between GNOME and KDE each time you log into the system. It’s easy.

Choose the graphical desktop.

Click for large view

4. Installation Settings
YaST automatically checks your system and presents you with an installation proposal—to see more details of the installation settings that YaST has recommended, choose the expert mode. If you wish, you can easily install additional applications or change the settings. When you’re satisfied with your choices, simply click Accept.

Installation Settings

Click for large view

5. Network Settings
The next step is the configuration of the Internet connection. Network cards, modems, ISDN cards and DSL devices are automatically detected. An extensive list of preconfigured ISPs facilitates the configuration of your Internet provider.

Network Configuration

Click for large view

During the installation, we recommend that you test the connection and update your system with the online update service.

YaST Online Update

Click for large view

6. Configuring the User Login
Just before installation completes, openSUSE offers you the choice between a standalone system and a network system. Newcomers can simply confirm the default setting “Standalone System” by pressing the Next button, while experienced users can select their preferred user login methods for network use.

User authentication method

Click for large view

On standalone systems, you will be prompted to create a user ID. Linux protects your system by leaving many configuration options accessible only via a special Administrator ID and password. You will use your computer as a standard user, but to install or modify programs or important settings, you will have to log in as the “Root User.” When you are operating as a standard user, you are better protected from harmful programs.

Add a new local user

Click for large view

7. Information about the Latest Version
Just before the installation finishes, the release notes are displayed. This is important information about openSUSE that became known shortly before the development process was completed and could not be included in the documentation.

Release Notes

Click for large view

8. Graphics, Printer and Other Hardware
Finally, openSUSE will configure the remaining system hardware. Usually, all components—including the graphics card, TV card, sound card, printer, scanner and monitor—are automatically detected and merely need to be confirmed. Of course, experienced users can use YaST for fine tuning.

Hardware Configuration

Click for large view

9. Finishing the Installation
Upon completing the installation, your system will restart.

KDE Desktop

Diterbitkan di: on Februari 19, 2007 at 8:40 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Setting Mikrotik Wireless Bridge

Sering kali, kita ingin menggunakan Mikrotik Wireless untuk solusi point to point dengan mode jaringan bridge (bukan routing). Namun, Mikrotik RouterOS sendiri didesain bekerja dengan sangat baik pada mode routing. Kita perlu melakukan beberapa hal supaya link wireless kita bisa bekerja untuk mode bridge.Mode bridge memungkinkan network yang satu tergabung dengan network di sisi satunya secara transparan, tanpa perlu melalui routing, sehingga mesin yang ada di network yang satu bisa memiliki IP Address yang berada dalam 1 subnet yang sama dengan sisi lainnya.

Namun, jika jaringan wireless kita sudah cukup besar, mode bridge ini akan membuat traffic wireless meningkat, mengingat akan ada banyak traffic broadcast dari network yang satu ke network lainnya. Untuk jaringan yang sudah cukup besar, saya menyarankan penggunaan mode routing.

Berikut ini adalah diagram network yang akan kita set.

Konfigurasi Pada Access Point

1. Buatlah sebuah interface bridge yang baru, berilah nama bridge1

2. Masukkan ethernet ke dalam interface bridge

3. Masukkan IP Address pada interface bridge1

4. Selanjutnya adalah setting wireless interface. Kliklah pada menu Wireless (1), pilihlah tab interface (2) lalu double click pada nama interface wireless yang akan digunakan (3). Pilihlah mode AP-bridge (4), tentukanlah ssid (5), band 2.4GHz-B/G (6), dan frekuensi yang akan digunakan (7). Jangan lupa mengaktifkan default authenticated (8) dan default forward (9). Lalu aktifkankanlah interface wireless (10) dan klik OK (11).


5. Berikutnya adalah konfigurasi WDS pada wireless interface yang digunakan. Bukalah kembali konfigurasi wireless seperti langkah di atas, pilihlah tab WDS (1). Tentukanlah WDS Mode dynamic (2) dan pilihlah bridge interface untuk WDS ini (3). Lalu tekan tombol OK.

6. Langkah selanjutnya adalah menambahkan virtual interface WDS. Tambahkan interface WDS baru seperti pada gambar, lalu pilihlah interface wireless yang kita gunakan untuk WDS ini. Lalu tekan OK.

7. Jika WDS telah ditambahkan, maka akan tampak interface WDS baru seperti pada gambar di bawah.


Konfigurasi pada Wireless Station

Konfigurasi pada wireless station hampir sama dengan langkah-langkah di atas, kecuali pada langkah memasukkan IP Address dan konfigurasi wirelessnya. Pada konfigurasi station, mode yang digunakan adalah station-wds, frekuensi tidak perlu ditentukan, namun harus menentukan scan-list di mana frekuensi pada access point masuk dalam scan list ini. Misalnya pada access point kita menentukan frekuensi 2412, maka tuliskanlah scan-list 2400-2500.


Pengecekan link

Jika link wireless yang kita buat sudah bekerja dengan baik, maka pada menu wireless, akan muncul status R (lihat gambar di bawah).


Selain itu, mac-address dari wireless yang terkoneksi juga bisa dilihat pada jendela registration (lihat gambar di bawah).


Konfigurasi keamanan jaringan wireless

Pada Mikrotik, cara paling mudah untuk menjaga keamanan jaringan adalah dengan mendaftarkan mac-address wireless pasangan pada access list. Hal ini harus dilakukan pada sisi access point maupun pada sisi client. Jika penginputan access-list telah dilakukan, maka matikanlah fitur default authenticated pada wireless, maka wireless lain yang mac addressnya tidak terdaftar tidak akan bisa terkoneksi ke jaringan kita.

Jika kita menginginkan fitur keamanan yang lebih baik, kita juga bisa menggunakan enkripsi baik WEP maupun WPA.

Diterbitkan di: on at 6:17 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Instalasi SuSE

SuSE dapat langsung diinstal tanpa mempergunakan disket pada komputer yang sudah memiliki sistem operasi Windows atau DOS. Untuk sistem operasi lainnya, instalasi membutuhkan disket untuk inisialisasi kernel di komputer. Sebelum memulai instalasi, pastikan Anda mempersiapkan hal-hal sebagaimana dibahas dalam tahapan pre instalasi di sub bab sebelumnya. Berikut langkah-langkah instalasi SuSE :

  1. Masukkan CD-ROM SuSE
  2. Jika Anda masih berada di Microsoft Windows, restart komputer ke dalam MSDOS mode.
  3. Pindah ke drive dimana CD-ROM SuSE berada (misalnya D:\).
  4. Saat berada di drive CD-ROM, jalankan program setup. D:\> setup
  5. Pertama kali muncul adalah pilihan bahasa. Anda bisa pilih Bahasa Indonesia atau Inggris. Contoh dalam langkah instalasi berikut menggunakan pilihan Bahasa Inggris.
  6. Kemudian muncul pertanyaan drive tempat CD-ROM berada. Ketikkan D:\ atau E:\ , tergantung komputer Anda.
  7. Berikutnya adalah metode instalasi. Pilihan yang ada adalah :
    1. CD; jika Linux sudah mendukung CD-ROM yang Anda miliki.
    2. Hard disk; jika Linux sudah disalin dari CD-ROM ke hard disk.
  8. Selanjutnya adalah pemilihan kernel. Kernel adalah program utama Linux, inti dari sistem operasinya. SuSE menyediakan beberapa pilihan kernel yang sudah dikompilasi sebelumnya untuk mendukung perangkat keras secara spesifik. Misalnya kernelEIDE01 untuk perangkat keras(E)IDE secara umum, atau kernelSCSI01 untuk SCSI Adapter Aic 7xxx (Adaptec 274x). Pemilihan kernel ini tergantung konfigurasi komputer masing-masing.
  9. Masukkan parameter kernel. Jika Anda tidak mengetahuinya, langsung tekan enter.
  10. Berikutnya SuSE akan menanyakan apakah Anda menginginkan untuk instal Loadlin sekarang? Loadlin adalah program yang dijalankan di DOS untuk menginisialisikan kernel (menjalankan Linux) lewat MSDOS. Jawab ya jika Anda belum memilikinya, dan sebaliknya.
  11. Selesai proses instalasi Loadlin, kernel akan langsung dijalankan. Untuk inisialisasi kernel, secara otomatis dijalankan perintah : LOADLIN E:/suse/images/EIDE01 root=200 rw 2 Initrd

    E:/suse/images/initdisk.gz lang=english

    Jika Anda pelajari instalasi Slackware pada bagian sebelumnya, maka disini ditemukan metode yang serupa. Perintah pertama meminta loadlin untuk menjalankan kernelEIDE01, yang terletak di direktori E:/suse/images, dan status read write. Perintah kedua meminta initrd untuk menjalankan initdisk.gz dengan Bahasa Inggris (tergantung pilihan bahasa sebelumnya) setelah kernel berhasil diinisialisasi. Pada instalasi Slackware, tugas ini dijalankan oleh disk boot dan disk root. Perintah diatas mengeluarkan pesan di monitor:

    Load Linux now!

  12. Dari perintah kedua, initrd akan menjalankan Linuxrc (Versi 0.91) ke dalam komputer Anda. Pertama kali Anda harus memilih monitor. Anda dapat memilih monitor monokrom (hitam putih) atau warna. Berikut menu utama (Main Menu) Linuxrc, jalankan pengaturan dalam menu-menu berikut secara berurutan.
    1. Settings, meliputi
      • Language; untuk pengaturan bahasa
      • Display; untuk pengaturan monitor
      • Keymap; untuk pengaturan keyboard
      • Debug; pilihan untuk pengguna Linux tingkat lanjut. Isinya berupa pilihan Animation, Force rootimage, Enter rootimage, Instalation system, Scripting NFS port. Jika tidak tahu, Anda dapat abaikan pilihan ini, dan relatif tidak mengganggu proses instalasi secara keseluruhan.
    2. System Information, meliputi
      • Kernel Messages; Seluruh pesan yang disampaikan kernel saat booting (termasuk pengenalan perangkat keras). Dari pesan kernel ini Anda dapat mengetahui perangkat mana yang sudah didukung oleh kernel dan mana yang belum.
      • Hard disk /CD-ROMs; Catatan hard disk dan CD-ROM yang dikenali oleh kernel.
      • Modules; Catatan tentang driver perangkat keras (di Linux disebut sebagai modul) yang sudah diaktifkan
      • PCI; Catatan tentang kartu PCI yang dimiliki berdasarkan pengenalan oleh kernel.
      • Memory; Catatan tentang memory yang dimiliki berdasarkan pengenalan oleh kernel.
      • IO Port; Port Input Output
      • Interrupts; Catatan interrupts.
    3. Kernel Modules, meliputi
      • Load SCSI module; mengaktifkan modul SCSI yang belum dikenal oleh kernel. Hal ini diketahui dengan membaca pesan kernel pada bagian sebelumnya.
      • Load CD-ROM module; Mengaktifkan modul CD-ROM
      • Load network card module; Mengaktifkan modul kartu jaringan.
      • Load PCMCIA module; Mengaktifkan modul PCMCIA.
      • Show Loaded modules; Melihat modul-modul yang telah diaktifkan.
      • Unload modules; Menon-aktifkan kembali modul-modul yang telah aktif.
      • Autoload modules; Mengaktifkan modul secara otomatis dengan melakukan inspeksi (probing) terhadap semua perangkat keras yang ada.
    4. Start Instalation System; meliputi
      • Start Instalation; Mulai instalasi
      • Boot Instalation; Selesai instalasi dan boot komputer
      • Start Rescue System
      • Start Live CD
  13. Pada saat memilih Start Instalation, Linuxrc menanyakan media tempat di mana sumber file SuSE yang akan diinstal. Pilihan tersebut meliputi CD-ROM, Network (NFS), Network (FTP), Hard disk. Pilih sesuai kebutuhan Anda. Dalam contoh berikut instalasi dilakukan lewat CD-ROM.
  14. Setelah memilih media instalasi, segera muncul program YaST yang menawarkan tipe instalasi. Tipe yang ditawarkan adalah :
    • Install Linux from scratch; Instal SuSE baru ke dalam komputer dengan metode standar.
    • Update existing file system; Upgrade SuSE dari versi sebelumnya.
    • Instalation using expert mode; Instalasi dengan pilihan-pilihan khusus yang menawarkan modifikasi penuh.
    • Abort; membatalkan instalasi.

    Pilih install Linux from scratch

  15. Langkah selanjutnya adalah penentuan partisi. Sebelum melanjutkan, silakan baca tentang partisi pada sub bab instalasi Slackware. Pilihan pertama adalah partitioning hardware; ada dua pilihan :
    • partitioning; SuSE akan melakukan partisi otomatis sisa spasi hard disk yang masih kosong. Partisi otomatis ini meliputi partisi Linux sekaligus swap.
    • Do not partitioning; Untuk langkah partisi normal. Untuk belajar melakukan partisi, pilih do not partitioning.
  16. Setelah dipilih do not partitioning, akan muncul pilihan lagi, yakni :
    • Whole hard disk; SuSE akan mempartisi seluruh hard disk. Hindarkan pilihan ini.
    • Partitioning; melakukan partisi secara manual. Pilih partitioning untuk menjalankan partisi hard disk secara manual.
  17. Langkah selanjutnya adalah mengedit tabel partisi. Jalankan langkah ini secara hati-hati terutama jika Anda memiliki data dalam hard disk Anda. Berikut contoh tabel partisi yang sudah ada : Device Name From To Blocks Partition Type

    /dev/hda1 1 319 2562336 b Win 95 Fat 32
    /dev/hda2 320 1048 5855692 5 extended
    /dev/hda5 320 447 1028128 83 Linux Native
    /dev/hda6 448 463 128488 82 Linux Swap

  18. Tampilan tabel partisi bisa bermacam-macam, tergantung pengaturan di komputer Anda sebelumnya. Untuk membuat partisi baru, tekan F5. Starting Cylinder :

    End of partition: +1000M

    Pada pilihan Starting Cylinder, biarkan kosong, langsung tekan enter. Selanjutnya muncul End of Partition, masukkan jumlah megabyte yang Anda inginkan, diawali dengan tanda plus. Contoh di atas adalah membuat partisi baru dengan ukuran 1 Gigabyte (1000 Megabyte). Lakukan langkah ini hingga diperoleh daftar partisi yang diinginkan. 18. Selesai membuat partisi baru, lanjutkan dengan pemilihan partisi swap. Pilih Continue, dan akan muncul pertanyaan Select Swap Partition. Pilih partisi swap yang Anda tentukan sebelumnya. Anda akan dikonfirmasi, apakah Anda ingin melakukan cek swap yang akan diaktifkan? Cek ini meliputi bad blocks dan cek permukaan piringan hard disk yang akan digunakan. Pilih yes.

  19. Langkah selanjutnya adalah melakukan format terhadap sistem file Linux yang baru saja Anda buat partisinya. Contoh sistem file yang sudah ada : List of existing hard drive

    Device Blocks     Inodes Format fstype mountpoint partition

    /dev/hda5 1028128 4096   No     ext2              Linux

    Pilih F6 untuk format partisi yang ada. Pilih Normal Format. Selanjutnya, tekan F4 untuk menentukan mount point. Pilih /. Tekan Continue, dan partisi Anda akan diformat.

  20. Instalasi akan kembali ke prompt YaST untuk load configuration. Pilih default SuSE. Anda bisa pilih secara manual paket-paket yang diinginkan. Bagian ini memakan waktu yang cukup lama, sebab proses instalasi program yang dipilih sedang berjalan.
  21. Selesai instalasi program, Anda diminta memilih kernel lewat menu Select Kernel, dan pilih Standard (E)IDE kernel (jika hard disk atau CD-ROM Anda IDE) atau SCSI kernel (jika hard disk atau CD-ROM Anda SCSI).
  22. Berikutnya Anda akan ditanyakan untuk membuat boot disk. Jawab ya jika Anda memang menginginkan Linux di boot dari disket. Siapkan satu disket kosong. Jika tidak, teruskan.
  23. Setelah itu muncul menu LILO Instalation. Jawab yes dan segera Anda dibawa ke menu :
    • Pilihan berikut biarkan kosong Append line for hardware parameter :
    • Pilih Master Boot Record untuk menempatkan LILO di MBR sehingga saat # boot akan dijalankan. Where do you want install LILO :

      Master Boot Record

      Boot sector of root partition

      Boot sector of boot partition

      On floppy disk

    • Boot delay adalah lama waktu dalam satuan detik pada saat memilih menu sistem operasi yang akan dijalankan saat komputer dinyalakan. Boot Delay :
  24. Proses selanjutnya penentuan time configuration. Ini adalah satuan waktu yang digunakan oleh sistem operasi. Anda bisa memilih antara menggunakan GMT atau waktu lokal.
  25. Setelah itu penentuan hostname dan domain name. Isian ini sangat penting untuk memastikan program-program daemon yang membutuhkan nama mesin dan nama domain seperti server web dan server mail berjalan dengan baik. Untuk pengisian, misalnya: Hostname : spawn

    Domain Name : heaven.or.id

  26. Menu berikutnya adalah konfirmasi peran komputer Anda. Pilihannya adalah :
    • IP Loopback only; untuk mesin yang berjalan sendiri dan tidak terhubung ke jaringan
    • Real network; untuk mesin yang terhubung dalam jaringan.

    Pada bagian DHCP client, pilih no (kecuali jika Anda terhubung dalam jaringan dengan DHCP). Dalam contoh berikut, pilih real network.

    Catatan:

    DHCP atauDynamic Host Configuration Programadalah program yang mendistribusikan alamat IP pada setiap mesin yang terhubung ke dalam jaringan. Pemberian alamat IP secara dinamis ini memudahkan jaringan dengan user yang banyak, dan alamat IP tidak perlu diset satu per satu di tiap mesin. Cukup DHCP yang membagikannya secara acak. Program ini biasa dipergunakan di ISP (Internet Service Provider), di mana setiap user yang tersambung lewat modem, memperoleh alamat IP berubah-ubah pada tiap koneksi.

  27. Jika dipilih real network, menu berikutnya adalah memasukkan alamat jaringan :
    • type of network; piliheth0. Ini berarti dalam menghubungkan ke jaringan menggunakan kartu jaringan. Jika pada boot sebelumnya kernel belum mengenal kartu jaringan yang ada, Anda dapat mengkonfigurasikannya nanti. Lihat di Bab III, Sub Bab konfigurasi kartu jaringan.
    • IP Address of your machine; isikan alamat IP misalnya 192.168.1.100
    • Netmask; Isikan netmask berdasarkan kelasnya. Misal 255.255.255.0
    • Gateway; Biarkan kosong. Gambaran tentang gateway dapat Anda baca di Bab III sub bab IP Masquerade.
    • IP Address of PPP Partner; Isikan DNS server dari ISP Anda. Misalnya 202.158.3.7.
  28. Selanjutnya adalah mengkonfigurasikan sendmail lewat sendmail.cf. Menu yang diberikan:
    • Host with permanent network connection; Jika Anda terhubung dalam jaringan dengan sambungan yang permanen.
    • Single user machine without network connection; Jika komputer tidak terhubung dalam jaringan (standalone)
    • Host with temporarily network connection; Jika dalam waktu-waktu tertentu komputer Anda terhubung dalam jaringan (misalnya Internet).
    • Use UUCP to send mail; Jika mesin Anda terhubung dalam jaringan UNIX, dan mempergunakan protokol UUCP (Unix to Unix Copy Protocol)
    • Do not install /etc/sendmail.cf; Melewati menu ini, dan jika perlu sendmail.cf dapat dikonfigurasikan sendiri nantinya.
  29. Selesai konfigurasi sementara untuk sendmail, komputer akan direstart. Selanjutnya adalah mengisikan password untuk root. Usahakan untuk mengisi lebih dari 8 huruf.
  30. Langkah berikutnya membuat satu user sebagai contoh. Anda dapat menggunakan user contoh ini untuk login pertama kali nantinya. Usahakan untuk menggunakan user root seminimal mungkin.
  31. Langkah terakhir, mengkonfigurasikan beberapa peralatan tambahan seperti modem, dan mouse. Selesai langkah ini, Anda bisa langsung masuk ke Linux prompt, dan login dengan menggunakan account root atau user contoh yang telah anda tentukan sebelumnya.
Diterbitkan di: on at 2:36 pm Tinggalkan sebuah Komentar

MEngenal Jaringan WAN

TCP?IP is in most companies now the standard protocol, especially when multiple locations
(Offices and/or factories) are connected via a Wide-Area-Network ( WAN ) :

In the headquarter, there will be most
probably some servers, which need to
be accessed from Remote offices and/
or factories (like a mail-server and/or a
company internal webserver ) and/or a
main-frame or mini-computer, running
a common accounting system or an
Enterprise Resource Planing System
( ERP ), which usually are accessed from
the client-computers via TCP/IP.

The headquarter could be connected
via fixed lines (provided by WAN
providers) to the remote offices and/
or factories.
Once the routers are setup properly by
the WAN provider, you as a user will
not need to worry about the WAN,
you have access to the servers and
main-frame, as long as in all locations
the systems are properly configured
for the router/Gateway.

In this example, you would need to define
in the remote location the Gateway
(= Router) address, either manually
or using DHCP when IP-addresses are
obtained automatically
(for example from
a DHCP-service on an NT4-server)
Just verify the values using “winipcfg
(on Windows95/98/ME) or “ipconfig
(on Windows NT / 2000)
Test the connection from the remote
location to the headquarter by making
the PING test to the systems located
in the headquarter.

For File-Access to an NT-server in
the headquarter via the WAN, you will
either to setup a WINS server or use
LMHOSTS.


It is getting more complicated, when you have a second router/gateway installed,
for example for permanent Internet access.


But there is also a special item to
watch out for in the remote location
when connecting via a modem and
a dial-up connection to the Internet :
Once you connect to the Internet,
you will loose the connection via the
WAN to all the systems in the
Headquarter, you will not be able to
PING them.
What happened ?

Use in the START-menu the RUN-
command to start “winipcfg” and
check your IP-values of the dial-up
connection (via the modem) to the
Internet, which is the “PPP Adapter“:
Usually, you get an additional Gateway
address assigned to you for the
Internet connection.
All network traffic, also for the
internal communications, will now
be send to the Internet gateway !

While you are connected, you have now a configuration with multiple routers/gateways, and
you will have to give Windows a “helping hand” to tell it, which router/gateway to be used for
Internet network traffic and which one for company internal network traffic:
you need to use the “ROUTE” command to inform Windows, which gateway to use to access
the systems in the headquarter (more details on ROUTE in the next section below):

Your system knows now to use
the gateway address at 192.168.1.1
for internal communication with
the headquarter, while all other
communications will use the
gateway defined by the Internet
connection

A WAN setup with multiple Routers/gateways in a location:

With 2 gateways, you have 2 possibilities:

1) Define one of them as the Default gateway (usually the Internet Gateway) and program
this gateway to pass any network traffic for the headquarter on to the WAN router/gateway.
But very often, you as a user or even network administrator do not have access to the
internal routing tables of your router, requiring you to use the 2nd possibility.

2) Define the gateway with the widest range of IP-addresses (usually the Internet Gateway)
as your Default gateway and then program your own system to send all other network traffic
(for internal communication ) to the WAN router by using the “ROUTE” -command:

The Help-information, as displayed on a WindowsNT4 or Windows2000 system in a
Command-prompt window:

We need to use the “ROUTE ADD
command to program the system
to send all network traffic for the
address range 192.168.2.0
(applying the subnet-mask of
255.255.255.0) to the gateway/
router at 192.168.1.1

Note: on a Windows NT or Windows2000 system, you can use the option: ‘-p’:

which makes the programming persistent: the value will still be programmed after a system reboot.
On a Windows 95/98/ME system, you will need to redefine this ROUTE ADD command after
each reboot, either manually or by entering the command in a batch-file, executed via the STARTUP
folder.

Diterbitkan di: on Februari 17, 2007 at 8:04 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Backup harddisk via Network dengan Ghost

Norton Ghost adalah salah satu utiliti untuk membackup dan restore data harddisk ke harddisk atau media lain. Sejak Ghost DOS 2005 dengan versi 8.3 release, paket lengkap dari software Symantec Ghost juga memiliki fitur kompatibel dengan hardware terbaru seperti kemampuan mengcopy pada SATA device serta tambahan untuk melakukan backup dan restore melalui networking (LAN)

Selain Ghost32 8.3 versi DOS terdapat software lain dengan fungsi sama seperti Ghost32 8.3 tetapi ditujukan untuk pemakaian langsung pada sistem Windows serta jaringan network (LAN).

Fungsi Ghost32 adalah melakukan backup atau restore harddisk baik untuk standalone PC maupun antar network. Anda dapat melakukan backup partisi atau disc melalui antar computer dengan mentranfer file ke computer lain didalam sebuah jaringan network

Pemakaian Ghost32 untuk network dibedakan dengan status sebagai computer Slave dan Master.

Status computer Slave difungsikan sebagai computer penampung, penyimpan atau storage. Terdapat 2 program yang dapat digunakan sebagai status Slave yaitu Ghost32 untuk peer to peer atau GhostCast Server (GhostSRV) didalam computer Slave

Untuk status Master adalah computer lain yang akan mentranfer file ke computer Slave dan menyimpan file Ghost pada harddisk Slave. Atau untuk memudah pengertian Master, adalah computer yang akan membackup data dari harddisk baik partisi maupun seluruh isi harddisk dan mengirim datanya ke computer slave untuk disimpan dan dijadikan sebuah image file.

Dengan Ghost32, status Slave Peer to Peer dapat dijalankan dari Ghost32 dengan pilihan : Peer to peer -> TCP/IP -> Slave

Dengan GhostSRV, status Slave disebut sebagai GhostCast Server yang memiliki interface seperti program Windows. Sedikit berbeda dengan Ghost32, dengan GhostCast Server maka anda dapat memilih nama untuk Session Name dan memilih apakah program akan mengaktifkan untuk melakukan backup atau restore.

Sedangkan status master hanya dapat dijalankan pada Ghost32 saja. Tetapi perbedaan pada pilihan option untuk koneksi ke software Ghost32 peer to peer atau untuk GhostCast Server.

Untuk pilihan Master pada Ghost32 peer to peer, memiliki pilihan tidak berbeda seperti Ghost32 pada computer Slave. Anda cukup memilih option Master dan mengkoneksi nomor IP computer Slave sebagai computer storage.

Sedangkan dengan GhostCast server, anda dapat memilih nama Session Name yang telah anda buat pada computer Slave sesuai langkah yang telah anda buat misalnya untuk melakukan backup atau melakukan restore pada sebuah sesi

 

Tujuan pemakaian Ghost32 peer to peer dan Cast Server untuk network:

  • Dapat melakukan backup dan restore pada computer dan memindahkan isi harddisk atau media lain ke computer lain melalui jaringan (LAN).
  • Posisi computer penyimpan atau sebagai storage disebut sebagai Slave yang menampung hasil pengirimand dari computer master. Dan computer yang melakukan remote untuk memindahkan file disebut Master mengunakan software Ghost32
  • Dengan software Ghost32, lebih mudah untuk melakukan backup dan restore harddisk tanpa harus membuka case computer atau menambahkan perangkat storage seperti USB harddisk. Dan image harddisk dapat dilakukan pemindahan data harddisk ataupun image file ditranfer melalui jaringan LAN ke computer Slave dan Master
  • Computer yang diaktifkan sebagai Slave tidak perlu membuka isi harddisk dengan share file sehingga relatif lebih aman.
  • Ghost membuat file berdasarkan image atau langsung membuat ke sebuah partisi atau disk sesuai pilihan anda. Dibandingkan dengan melakukan copy file via Explorer Windows tentu membutuhkan waktu lebih lama
  • Dapat bekerja dengan GhostSRV atau GhostCast Server sebagai slave server untuk membuat cloning image Ghost dalam bentuk filefile. Dan nama file sudah dapat anda tentukan sebelum melakukan copy data dari software Ghost32 pada computer Master.
  • Dengan GhostCast Server, dapat dilakukan untuk membackup secara bersamaan dari 1 buah computer Slave dengan beberapa computer Master.

Keterbatasan dari Software Ghost32 dan GhostCast Server:

  • Ghost32 tidak bekerja pada OS dibawah versi WinXP Pro
  • Tidak dapat mengcopy dan restore partisi maupun harddisk bila terdapat sistem operasi aktif. Misalnya harddisk dengan 1 partisi termasuk didalamnya OS Windows XP. Maka Ghost32 tidak dapat melakukan backup atau restore
  • Membutuhkan koneksi LAN untuk mentranfer file dari harddisk ke harddisk didalam sebuah jaringan

Untuk GhostSRV membantu untuk lebih mudah melakukan backup dan restore:

Software Ghost memiliki satu software yaitu GhostSRV untuk membantu proses backup maupun restore data. Seperti Ghost32, GhosSRV ditempatkan sebagai Slave computer atau computer penyimpan penganti dari Ghost32 Slave. Dengan GhostSRV dapat bekerja dengan beberapa program untuk sebuah PC. Misalnya anda memerlukan 3 buah copy backup dari 3 computer berbeda. Anda cukup menjalankan 3 program GhostSRV pada sebuah computer slave untuk menyimpan image file.

Berbeda dengan Ghost32 dengan koneksi peer to peer atau direct atau langsung ke antar computer berdasarkan nomor IP computer. Untuk GhostSRV dapat diberikan nama tersendiri atau disebut Session Name. Hal ini lebih mudah mengatur nama file dan menhindari kesalahan ketika membackup

Contoh sederhana, ada 3 buah computer dengan partisi D yang akan dibackup misalnya PC1, PC2 dan PC3. Dengan GhostSRV , anda dapat menjalankan 3 program GhostSRV bersamaan dan memberikan nama Session Name dengan untuk program pertama misalnya dengan session name pc1drived dan pc2drived untuk session name kedua dan selanjutnya. Pada program GhostSRV, anda dapat langsung memberikan nama sebelum melakukan backup file dari hasil ghost dan menyiapkan 3 program GhostSRV untuk siap menerima client dengan masing masing nama Session Name.

Selesai anda menyiapkan computer untuk menyimpan data, anda cukup pergi ke computer PC1 sebagai computer master pertama dan melakukan backup dengan Ghost32 tetapi pilihan option mengunakan GhostCast. Didalam computer master pertama (PC1), anda cukup memasukan nama session name yang sudah anda buat dari PC slave dengan program GhostSRV sebelumnya.

Bila nama Session Name benar program Ghost32, maka proses backup dilakukan seperti biasa seperti Ghost32 dengan Peer to Peer, tetapi nama file backup yang disimpan sudah diatur ketika anda menjalankan program GhostSRV. Setelah program Ghost32 sedang melakukan backup dari PC1, anda dapat melakukan backup dari PC2 dengan langkah yang sama. Sehingga proses backup dapat dilakukan dengan waktu bersamaan ke sebuah computer sebagai storage (slave computer).

Perbedaan dengan Ghost32 peer to peer, nama file backup atau pilihan file restore dipilih setelah terhubungnya antara computer master dan slave

Untuk kecepatan backup dengan LAN berkecepatan 100Mbps ethernet, memiliki kecepatan sekitar 500MB atau lebih perdetik.

Selanjutnya langkah melakukan koneksi antar PC dengan Ghost32 dan GhostSRV.

Dibawah ini adalah tahapan untuk melakukan backup atau restore dari sebuah computer ke computer lain dengan tranfer via jaringan LAN

Backup dengan Ghost Peer to Peer – Slave

Langkah awal untuk mengcopy partisi harddisk dengan Ghost Peer to Peer. Jalankan program Ghost32 pada computer yang difungsikan sebagai storage atau Slave Computer untuk menampung file dari computer master

Pilih menu : Peer to Peer -> TCP/IP -> Slave

 

Ghost akan menampilkan IP number computer Slave, nantinya nomor IP computer tersebut digunakan untuk penghubung dari computer Master. Computer Slave akan menunggu Ghost32 dari computer master sebelum menerima data untuk disimpan didalam harddisk

 

Bila Ghost Peer to Peer telah terhubung, maka akan tampil seperti gambar dibawah ini

 

 

Backup dengan Ghost Peer to Peer – Master

Untuk computer kedua atau yang akan dibackup/restore atau disebut sebagai computer Master, jalankan program seperti gambar dibawah ini. Option : Peer to Peer -> TCP/IP -> Master

Lalu masukan nomor IP dari computer Slave sebagai storage seperti gambar dibawah

Bila program Ghost di computer Master telah terhubung, maka tampilan seperti gambar dibawah ini. Menu Local atau untuk mengcopy dan restore file Ghost pada local harddisk akan dihilangkan dan keterangan paling kiri bawah pada program menunjukan status Connected.

Pilih option untuk melakukan backup, misalnya pada gambar dibawah adalah untuk membackup partisi computer Master ke image file dan disimpan ke computer slave.

Setelah anda memilih partisi ataupun disk yang akan dibackup maka akan muncul pilihan nama file. Perlu diingatkan ketika anda menyimpan file, file yang akan disimpan bukan pada computer master, melainkan dikirim ke computer Slave dan informasi pada Remote File Name of Image adalah nama directory dan disc di computer Slave.

Proses selanjut seperti melakukan pilihan Ghost untuk local, dimana anda diminta memilih apakah file image akan dicompress atau tidak

Pada gambar dibawah ini adalah proses ketika mentranfer file untuk membackup file dari computer Slave sebesar 2.559MB (2.5GB) ke harddisk computer Slave. Pada gambar dibawah juga terlihat informasi bahwa Connection type dengan TCPI/IP, atau mentranfer file image backup dari Ghost melalui network

Backup dengan Ghost dengan GhostCast Server – Slave

Untuk program GhostCast Server dapat difungsikan seperti Ghost32 (Slave), tetapi tidak dapat difungsikan sebagai Master.

Berbeda dengan Ghost32, dimana pengaturan nama file diatur melalui computer master. Untuk GhostCast Server diatur langsung dari software ini sebelum melakukan backup ataupun restore. Termasuk pilihan nama Session Name, jenis pengerjaan untuk partisi atau disk, pemberian nama file untuk membackup dan pilihan file image yang telah disimpan untuk melakukan restore.

GhostCast Server harus dijalankan dahulu sebelum anda berpindah ke computer master lain untuk melakukan backup dan restore. Pada gambar dibawah ini, pemberian nama pc2backup untuk nama Session Name. Ketika anda pergi ke computer lain misalnya PC nomor 2 dan melakukan backup file, anda cukup memasukan nama Session Name yaitu pc2backup.

Nantinya setelah anda siap mentranfer dari computer Master, jangan lupa meng-Accept Client agar GhostCast Server dapat menerima data file backup dari Ghost32 di computer Master

 

Pada gambar dibawah ini ketika GhostCast Server telah selesai menerima data yang dikirim dari computer Master dengan program Ghost32

GhostCast Server dapat dijalankan pada Windows dengan beberapa program yang sama dibuka bersamaan. Artinya anda hanya perlu membuka beberapa program dari GhostCast Server dan membuat masing masing Session Name. GhostCast Server pada sebuah computer Slave baik untuk tugas restore dan backup.

 

Backup dengan Ghost dengan GhostCast Server – Master

Setelah anda menyiapkan setup pada computer Slave sebagai penerima atau pengirim file. Setting untuk Ghost32 dengan koneksi GhostCast Server seperti gambar dibawah ini. Pilihan dengan : GhostCast -> dan pilih salah satu antara Multi Cast, Directed Broadcast dan Unicast.

Lalu masukan Session Name yang telah anda buat pada computer Slave seperti gambar dibawah ini. Selanjutnya proses seperti melakukan backup dengan Ghost Local tetapi file yang diterima akan disimpan dan langsung diberi nama sesuai dari pilihan yang anda buat pada program GhostCast. Sedangkan untuk melakukan restore, Ghost32 akan langsung menerima data yang dikirim ketika software GhostCast dijalankan dengan perintah Send

Kemudahan untuk membackup dan restore dengan Ghost via Network

Fungsi program Ghost via network tidak sepenuhnya mengantikan fungsi tranfer file antar computer dalam melakukan backup dan restore. Karena dengan mentranfer file via jaringan network bisa saja dilakukan dengan memindahkan file secara manual ke computer lain. Tetapi ada beberapa keuntungan dengan Ghost via Network :

  • Dengan backup dan restore melalui Network, anda dapat melakukan backup partisi maupun disk computer langsung ke image file dan bukan dalam bentuk file dan directory
  • Dengan GhostCast Server dapat melakukan restore secara bersamaan bila memiliki master yang sama.
  • Dengan compressing file, perpindahan data dari sebuah computer storage (Slave) ke computer client (Master) dapat dipersingkat. Khususnya untuk melakukan multiple restore ke beberapa harddisk client.
  • Menghindari data pada harddisk storage (slave) terlalu banyak menampung nama file dan directory yang terkadang membuat data crash pada harddisk backup. Dengan Ghost via network hanya memerlukan satu buah nama file baik untuk membackup sebuah disc atau partisi.
  • Ghost32 dan GhostCast Server lebih diperuntukan untuk melakukan restore dengan banyak computer.

Catatan akhir pada artikel ini. Sebaiknya anda mengerti apa yang akan dilakukan baik mengenai kinerja program Ghost32 dan GhostCast Server. Kesalahan dalam melakukan backup atau restore tentunya memiliki resiko lebih besar dengan hilangnya data pada sebuah harddisk.

Diterbitkan di: on at 7:57 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Mengenal Jaringan Wireless

Jaringan wireless secara topologi terbagi 2 : point-to-point dan point-to-multipoint.

1. Point-to-point
Frekuensi yang digunakan bisa 2.5 G, 5 G, 10 G, 15 G, dst.
Harus memenuhi kriteria LOS = Line Of Sight (terlihat tanpa ada penghalang di antaranya). Boleh ada penghalang di antaranya tetapi tidak boleh masuk dalam area Jari-jari pertama Fresnel Zone (Fresnel Zone 1). Cara perhitungan Fresnel Zone, untuk tinggi penghalang dan jarak dua antena dapat dilakukan di

Daya yang digunakan juga harus di sesuaikan, harus ada cadangan power jika terjadi hujan dan redaman atmosfer. Cadangan power untuk mengantisipasi redaman disebut Fading Margin. Perhitungan daya yg dibutuhkan antara 2 titik dengan jarak tertentu disebut Link Budget. Software perhitungan link budget dapat didownload di :

Untuk kemampuan hardware, masing-masing produk berbeda-beda. Disesuaikan dengan kebutuhan kita. Point-to-point biasanya digunakan untuk jaringan backbone/trunk atau jaringan akses berkecepatan tinggi.

2. point-to-multipoint.
secara garis besar, frekuensi dan perhitungan power hampir sama dengan point-to-point. Hanya saja jaringan point-to-multipoint ada yang mampu membentuk jaringan yang baik walaupun diantaranya terdapat penghalang (NLOS=Not Line Of Sight). Teknologi yang digunakan adalah OFDM (orthogonal Frequency Division Multiplexing). Memanfaatkan penghalang/obstacle sebagai media pemantul sinyal OFDM yang mempunyai banyak carrier (multi-carrier) sampai ke tujuan. sehingga sinyal yg datang dari berbagai arah pantulan sampai di sisi penerima dibuat saling memperkuat. Jika jarak antar antena tidak ada penghalang maka jangkauannya akan lebih jauh.

Teknologi wirelss masa depan adalah WiMAX ( Worldwide Interoperability for Microwave Access ) yang memungkinkan BTS dapat berkomunikasi dengan berbagai remote/client yang berbeda merk / Multivendor, dengan kecepatan yang sangat tinggi. Ditujukan untuk membentuk wireless Metropolitan Area Network(MAN).
Untuk informasi lebih lanjut tentang WiMax dapat di lihat di : dan

Untuk coverage area jaringan point-to-multipoint bergantung pada besar kecilnya daya pancar BTS (Base Transceiver Station) pada saat pengaturan awal (commissioning)

Garis besar hubungan Jarak/coverage, Frekuensi , Kecepatan/Bandwidth dan Harga/Cost
1. Semakin Tinggi Frekuensi, Bandwidth semakin besar, Harga Semakin Mahal, Coverage Area semakin Kecil.
2. Semkain Rendah Frekuensi, Bandwidth semakin kecil, Harga lebih murah, Coverage Area lebih jauh.

Untuk Frekuensi yang digunakan, pada umumnya perangkat wireless dapat diset di frekuensi berapa pun, tergantung regulasi pemerintah masing2 negara.

Jawaban versi 2 :

Wireless di bagi menjadi 3, berdasarkan jarak dan daya.
Wireless WAN (Wide Area Network) (hitungan sekian kilometer, dengan daya sekian ratus mW)
Wireless LAN (Lokal Area Network) (Jarak sekian ratus meter, dengan daya sekian puluh mW)
Wireless PAN (personal Area Network) (Jarak sekian puluh meter, dengan daya yang sangat kecil)

Untuk Wireless WAN, jarak 5 km termasuk umum (beberapa alat ada yang bisa sampai 40 km).

Di dalam dunia wireless ada 3 hal yang mempengaruhi jarak jangkau dengan suatu aturan sebagai berikut
1. Power, semakin besar daya, semakin jauh jaraknya. Tetapi daya yang besar sangat tidak baik, terutama bagi kesehatan tubuh.
2. Frekuensi, semakin besar frekuensi jaraknya semakin pendek. Tetapi frekuensi ini udah ada slotnya 2,4 GHz, 5 GHz, dst, jadi tidak bisa juga di atur-atur.
3. Alat yang digunakan. Misalnya penguatan antena, loss pada kabel, sensifitas penerima.

Alat yang umum dikenal dalam Wireless LAN di antaranya GPRS yang di pakai GSM, CDMA atau Bridge yang menggunakan standar WiFi.

Bridge yang umum di pasar saat ini, ada 2 tipe antena : yang berbentuk omni (seperti tiang dan menyebarkan sinyal ke seluruh arah) serta yang directional (seperti parabola ke arah tertentu). Untuk jarak 5 km, antena directional yang termurah pun bisa menjangkau jarak 5km, untuk antena umum yang mempunya penguatan yang tinggi sajalah yang bisa menjangkau jarak 5km. Kami sangat tidak menyarankan pemasangan boster, cara yang sangat praktis tetapi kalo tidak tahu penggunaannya secara tepat bisa merugikan orang.

Jawaban versi 3 :

Saat ini sudah ada teknologi terbaru dalam Wireless yaitu Wi-Max (worldwide interoperability for microwave access) yang menggunakan standar baru nirkabel IEEE 802.16 dengan kecepatan 11 mega byte (MB) per detik. Wi-Max bisa melayani akses internet nirkabel hingga sejauh 50 kilometer.

untuk Wi-fi jarak yang bisa diambil hanya berkisar 1 km, kalau mau ditambah berarti memerlukan upgrade teknologi radionya. teknologi ini menggunakan 2 gelombang radio.teknologi ini bisa dipakai dengan frekuensi berbeda. Sesuai dengan kondisi dan peraturan pemakaian frekuensi di negara pemakainya.

caranya juga sama :
bahwa ada 2 cara menghubungkan antar PC dengan sistem Wireless yaitu Adhoc dimana 1 PC terhubung dengan 1 PC dengan saling terhubung berdasarkan nama SSID (Service Set IDentifier). SSID sendiri tidak lain nama sebuah computer yang memiliki card, USB atau perangkat wireless dan masing masing perangkat harus diberikan sebuah nama tersendiri sebagai identitas.

Sistem Adhoc adalah sistem peer to peer, dalam arti satu computer dihubungkan ke 1 computer dengan saling mengenal SSID. Bila digambarkan mungkin lebih mudah membayangkan sistem direct connection dari 1 computer ke 1 computer lainnya dengan mengunakan Twist pair cable tanpa perangkat HUB.

Jadi terdapat 2 computer dengan perangkat WIFI dapat langsung berhubungan tanpa alat yang disebut access point mode. Pada sistem Adhoc tidak lagi mengenal sistem central (yang biasanya difungsikan pada Access Point). Sistem Adhoc hanya memerlukan 1 buah computer yang memiliki nama SSID atau sederhananya nama sebuah network pada sebuah
card/computer.

Kedua jaringan paling umum dan lebih mudah saat ini dengan sistem Access point dengan bentuk PCI card atau sebuah unit hardware yang memiliki fungsi Access point untuk melakukan broadcast ke beberapa computer client pada jarak radius tertentu.

Diterbitkan di: on at 7:50 pm Tinggalkan sebuah Komentar

MODUL PEMBELAJARAN

salam kenal

tkj adalah bidang yang saat ini mulai populer,,,,,,,dimana bidang

komputer ini mulaidiminati banyak orang , komputer …………mungkin dapat di katakan biasa-biasa saja,

sebenarnya jaringan dalam komputer tersebut sangat banyak, jika anda salah satu peminat

ilmu komputer anda dapat mempelajari lebih banyak lagi di Link yang ada di sebelah

kanan anda ok,,,,,,,klik disni

and kalau anda ingin mempraktekan pembelajaran tersebut di harap pake transs tool,,,
atau anda masuk ke toogletext.com………..klik disini

and jangan lupa snack taro 1 dus biar gak pusing ok P

Diterbitkan di: on at 7:34 pm Tinggalkan sebuah Komentar